?

Log in

No account? Create an account
Berbagai Unek-Unek Tentang Terjemahan [entries|friends|calendar]
Berbagai Unek-Unek Tentang Terjemahan

[ userinfo | livejournal userinfo ]
[ calendar | livejournal calendar ]

Dua topik, sebetulnya [01 Jun 2008|05:41pm]

shediao
[ mood | indescribable ]

Terjemahan harus baik dan tepat, kapan saja dan di mana saja. Itulah keyakinan saya. Ini termasuk terjemahan dalam media yang oleh sebagian orang dianggap diperuntukkan bagi anak-anak. Bila memang media itu khusus untuk anak-anak - dan terkadang kepercayaan yang demikian pun tak sepenuhnya benar - justru itu menjadi alasan bahwa terjemahan harus benar, untuk mengajarkan bahasa yang baik pada anak-anak sejak dini. Barangkali saya terlalu idealis, tapi saya tetap yakin terjemahan harus benar, apalagi bila dilakukan oleh seorang profesional.

Contoh terjemahan dalam jenis media yang saya singgung di atas:
Terjemahan yang ada di Bleach, serial animasi, episode 5:
"Pembunuh berturut-turut."
Apa maksudnya "pembunuh berantai"?
Terjemahan di Whistle!, serial komik sepakbola, jilid 22:
"Turki" diterjemahkan menjadi "Toroko".
Seperti halnya Bleach, Whistle! juga produk industri hiburan Jepang. Dalam bahasa Jepang, "Turki" secara fonetik memang ditulis "Toroko". Yang saya pertanyakan, tentunya, mengapa tulisan secara fonetik itu tidak diubah menjadi "Turki".

Untuk mengubah topik sedikit, beberapa waktu lalu saya pernah membaca terjemahan novel Joyce Carol Oates. Alasan utamanya adalah karena penerjemahnya, yang menurut pengalaman saya kerap menghasilkan terjemahan yang menarik untuk dibaca. Sayang, hal itu tidak saya jumpai dalam terjemahan buku Oates ini. Banyak kalimat acak-acakan dan seperti diterjemahkan begitu saja dari bahasa aslinya, tanpa menghiraukan wajar-tidaknya kalimat itu dalam bahasa Indonesia. Akhirnya saya berhenti membaca karena tidak tahan lagi, padahal kisah novelnya sendiri cukup mengundang minat.
Setelahnya saya sempat berpikir panjang mengenai editor dan tugas-tugasnya.

5 comments|post comment

Media mix-up [04 Mar 2008|08:28pm]

shediao
[ mood | awake ]

Hari ini di The Killing Field di Trans 7 ada terjemahan berikut ini:

"We made the front page."
Jadi:
"Berita kita jadi sampul."

Tadinya saya kira media yang dimaksud adalah majalah, tapi kemudian ditegaskan bahwa media yang dimaksud di sini adalah suratkabar.

post comment

Ada yang nonton Aang di Global TV kemarin? [04 Aug 2007|12:47pm]

ivles
Earth Kingdom = Kerajaan Bumi, padahal di opening mereka menggunakan Tanah. *cough*
Zhao the invincible = Zhao si tak terlihat O.o (konteksnya waktu itu adalah dia sebagai penakluk kerajaan Air, kok jadi tak terlihat?) *ROTFL*

Dan sepertinya semua dubber setuju bahwa cara baca Zhao adalah Zyao, dan bukan Chao.

Mohon maaf buat penerjemah dan dubber, tapi saya pikir, bila saya yang kemampuannya masih hina dina ini aja masih bisa menangkap kesalahan-kesalahan kecil seperti itu, bagaimana mereka yang luar biasa kemampuannya?
post comment

Amulet of Samarkand + The Floods [13 Jul 2007|01:27pm]

access_identity
[ mood | working ]

Saya baru selesai membaca satu buku anak-anak (The Floods) yang terjemahannya diterbitkan oleh Atria (salah satu lini Serambi), dan masih membaca buku pertama Bartimaeus Trilogy (Amulet of Samarkand) yang diterbitkan oleh GPU.

Sedikit komentar mengenai kualitas terjemahan keduanya:

The FloodsCollapse )

Amulet of SamarkandCollapse )

3 comments|post comment

Sekeliling? [22 Feb 2007|08:12pm]

shediao
[ mood | cold ]

"Ada satu alasan lebih dari 4 juta orang di sekeliling nusantara hepi terus."

Apa di sekeliling nusantara di sini maksudnya around the archipelago? Saya kurang mengerti mengapa kalimat tersebut tidak dijadikan "di seluruh nusantara," kecuali, misalnya, biro pengiklan memang sengaja membuat slogan lain dari yang lain. Kira-kira ada yang bisa menjelaskan?

5 comments|post comment

Suratkabar besar pun tidak luput dari kesalahan. [28 Nov 2006|06:35am]

access_identity
Sewaktu membaca KOMPAS edisi kemarin, saya dihinggapi kebingungan sewaktu membaca teks untuk foto di halaman depan. Foto tersebut menunjukkan mantan PM Italia, Silvio Berlusconi, yang sebelum pingsan berkata, antara lain, "Emosi menjadikan saya lebih baik..."
Lho? Orang mau pingsan karena terlalu emosional, kok bicaranya begitu? Setelah dipikir-pikir, ah, kemungkinan penulis teks itu menerjemahkan ucapan Berlusconi dari bahasa Inggris: "Emotions get the better of me..."
Itu dia celakanya jika menerjemahkan secara harfiah.

Dan hari ini, baru saja, saya melihat spanduk kegiatan rohani bertemakan: 'YESUS ADALAH BATU PENJURU'. Lagi-lagi saya terbingung-bingung. Batu penjuru? Apa maksudnya? Sekejap kemudian terpikir oleh saya: Ah! Cornerstone!
Tapi, entah, ya, mungkin memang istilah 'batu penjuru' itu sudah jadi semacam istilah keagamaan. Ada yang bisa menerangkan soal ini?
1 comment|post comment

Bapak Agus Setiadi telah berpulang... [15 Aug 2006|10:18am]

access_identity
[ mood | solemn ]

Berita dukacita ini sudah agak lama sebenarnya. Tapi saya tetap ingin menyampaikannya di sini, sebagai penghormatan terhadap salah satu penerjemah paling hebat yang pernah dikenal dunia penerbitan buku di Indonesia.

Bapak Agus Setiadi adalah salah seorang penerjemah paling senior di Indonesia. Beliau banyak menerjemahkan buku anak-anak, terutama dari bahasa Jerman, misalnya karya-karya Erich Kaestner. Dua hasil terjemahan terakhir beliau adalah 'Damai di Bumi'-nya Karl May dan 'Konrad si Anak Instan'-nya Christine Noestlinger.

Syukurnya, Pak Agus sudah punya pengganti yang mewarisi keahlian, ketelitian, dan kecerdasan beliau dalam menerjemahkan buku: Bapak Hendarto Setiadi, putra beliau sendiri. Sekarang Pak Hendarto sedang mengerjakan terjemahan beberapa karya Cornelia Funke (setelah Pangeran Pencuri), di antaranya Dragon Riders.

Semoga Pak Agus beristirahat dalam damai dan kita yang hidup dapat terus memperoleh inspirasi untuk selalu menyajikan terjemahan berkualitas terbaik seperti yang telah beliau lakukan semasa hidup!

6 comments|post comment

Catatan kecil dari The Omen [11 Jul 2006|09:19am]

shediao
[ mood | moody ]

Dalam The Omen yang ditayangkan Metro TV dua hari lalu, ada adegan di mana tokoh utama yang diperankan Gregory Peck berbicara dengan seorang biarawati Katolik. Di tengah percakapan, tokoh utama berkata, "Sister." Oleh penerjemah kata tersebut diterjemahkan menjadi "Perawat."

Di Indonesia, perawat dan biarawati sering sama-sama disebut "suster," kemungkinan karena pengaruh warisan jaman Belanda. Barangkali penerjemah dalam kasus di atas menganggap sang biarawati juga seorang perawat, dan itu wajar saja, sebab tempat di mana adegan berlangsung adalah gereja sekaligus tempat istri tokoh utama pernah melahirkan. Tetapi bukankah lazimnya dalam bahasa Inggris seorang perawat (yang bekerja merawat orang sakit) disebut "nurse"?

3 comments|post comment

HOLY BLOOD, HOLY GRAIL, HOLY COW! [19 Jun 2006|08:42am]

access_identity
[ mood | annoyed ]

Untung bukan saya yang membeli buku ‘Holy Blood, Holy Grail’, melainkan ayah saya. Ya, ayah saya yang malang. Uangnya melayang untuk sebuah buku yang kualitas terjemahannya sangat buruk. Tolong garis-bawahi kata ‘sangat buruk’. Masalahnya bukan hanya tata bahasa Indonesia penerjemah yang kacau-balau (tolong beri tahu saya arti sebenarnya dari ‘Impilikasinya (sic) dalam Dossiers Secrets adalah bahwa tekanan itu dibuat oleh Ordo Sion, karena Baudouin ‘berhutang tahta’ padanya’). Penerjemah juga jelas tidak menguasai dengan baik bidang buku yang diterjemahkannya serta juga sering salah menerjemahkan tidak saja kalimat-kalimat, tapi juga kata-kata, dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

Awalnya saya cukup gembira karena ‘ark’ pada ‘Ark of the Covenant’ diterjemahkan dengan benar menjadi ‘tabut’, bukan ‘bahtera’ seperti yang dilakukan penerjemah ‘The Name of the Rose’. Kegembiraan itu membuat saya sejenak mengabaikan tata bahasa penerjemah yang memusingkan. Lama-kelamaan, segala sesuatunya menjadi semakin kacau, dan saya tidak lagi bisa menahan tawa karena ‘Book of Revelations’ diterjemahkan menjadi ‘Buku Ilham’. Bukan maksud saya menjelek-jelekkan penerjemah dan penyunting, tapi kesabaran saya sudah habis menghadapi buku-buku terjemahan berkualitas sedemikian buruk yang banyak diterbitkan akhir-akhir ini.

Jika itu belum cukup membuat Anda tertawa…Collapse )

10 comments|post comment

The Magical Worlds of Harry Potter [27 May 2006|09:39pm]

access_identity
[ mood | working ]

Adik saya beberapa waktu lalu membeli terjemahan 'The Magical Worlds of Harry Potter' yang diterbitkan oleh Gramedia. Sayang sekali, kualitas terjemahannya ternyata tidak terlalu bagus. Hal pertama yang paling jelas terlihat adalah penerjemah dalam terjemahannya tetap menggunakan struktur bahasa Inggris alih-alih bahasa Indonesia. Sebagai akibatnya, banyak kalimat yang terasa kaku dan bahkan artinya sama sekali tidak jelas.
Yang lebih gawat, ada beberapa kata yang disalah-artikan. Misalnya saja, halaman 136: sejak kapan Dewa Thoth memegang PULPEN? Kata yang lebih tepat seharusnya adalah 'pena'.
Secara keseluruhan, kesan yang saya dapat adalah terjemahan itu seolah-olah tidak melalui proses penyuntingan, setidaknya bukan penyuntingan yang jeli. (Di halaman kredit, tidak tertera nama editor seorang pun.) Apakah hal itu sebuah contoh lain dari dikorbankannya kualitas terjemahan demi 'kejar tayang' penerbit?

13 comments|post comment

DVC dan DVCD [20 Jan 2006|03:48am]

access_identity
[ mood | thoughtful ]

MENYIBAK MISTERI ‘DA VINCI CODE’


Pertama-tama saya hendak minta maaf jika sekiranya Anda merasa tertipu karena judul tulisan saya ini. Saya sama sekali tidak bermaksud memperpanjang polemik yang ditimbulkan oleh novel tersohor karya Dan Brown, The Da Vinci Code. Yang ingin saya lakukan adalah, berdasarkan keprihatinan, menyoroti carut-marutnya dunia penerjemahan buku di Indonesia dengan mengambil contoh kasus The Da Vinci Code dan buku ‘pendamping’-nya, Da Vinci Code Decoded karya Martin Lunn. Pilihan terhadap kedua buku tersebut adalah karena keduanya tercantum dalam daftar buku terlaris di dunia, termasuk di Indonesia. Namun sayang (dan sungguh mengherankan), kualitas terjemahan keduanya ke dalam bahasa Indonesia kurang bagus.
The Da Vinci Code (selanjutnya saya sebut DVC saja) dan Da Vinci Code Decoded (DVCD) diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Saya tidak tahu ada hubungan apa di antara kedua penerbit itu, namun penerjemah kedua buku tersebut ternyata sama. Dan kesalahan-kesalahan yang diulangi pun yang itu-itu juga. Patut disayangkan, memang, karena usaha penerjemahan kedua buku itu ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang patut dihargai, dan, saya yakin, dinanti-nanti oleh banyak orang yang penasaran namun tidak punya akses ke versi bahasa Inggrisnya.

LanjutkanCollapse )
2 comments|post comment

Terjemahan On Writing [17 Jan 2006|02:37pm]

shediao
[ mood | sore ]

Ada yang sudah membaca terjemahan On Writing oleh Stephen King dari Qanita?

Dua kesalahan dalam terjemahannyaCollapse )

4 comments|post comment

Ada yang lebih salah dari ini? [27 Dec 2005|09:26pm]

shediao
[ mood | curious ]

Dalam penerjemahan anime (animasi Jepang) di TV Indonesia, banyak terjadi kesalahan penerjemahan atau penerjemahan yang sepertinya asal-asalan (suatu hal yang menurut saya pribadi tidak mencerminkan profesionalisme, atau mungkin juga sikap meremehkan terhadap profesi). Dari sekian banyak kesalahan penerjemahan, ada satu yang mungkin selamanya tidak akan bisa dilupakan penggemar anime di Indonesia, yakni sebuah kalimat dalam Gundam Wing episode 1.

"Omae wo korosu"
yang artinya
"Aku akan membunuhmu"
diterjemahkan menjadi
"Terima kasih."

Kesalahannya begitu mendasar sampai barangkali bisa dibilang tragedi terbesar dalam sejarah penerjemahan anime di TV Indonesia. Walau kita tertawa, rasanya kita pun melakukannya sambil menangis. [/dangdut mode]

Kecuali ada yang bisa menyebutkan kesalahan lain dalam bidang yang sama yang lebih dahsyat lagi dari ini?

5 comments|post comment

The Unvisibles [15 Dec 2005|11:04pm]

access_identity
[ mood | malam-malam lapar. ]

Ada yang sudah baca terjemahan 'The Unvisibles' terbitan Gramedia? Sayang tuh, penerjemah sama editor-nya kurang 'sigap' mencari arti beberapa kata/istilah yang akhirnya malah tidak diterjemahkan.

Misalnya:
Sewaktu si pengarang melukiskan sejumlah orang gendut sebagai 'Michelin men', penerjemah/editor tidak menerjemahkannya ataupun membubuhi catatan kaki, hanya dicetak miring. Kesannya mereka tidak tahu 'Michelin' itu apa. Padahal tinggal terjun ke Google sebentar, pasti dapat!

post comment

navigation
[ viewing | most recent entries ]